
Ribuan umat Paroki Katedral Ruteng mengikuti Ibadat Jumat Agung mengenang Jalan Salib Yesus hingga wafatNya di Bukit Golgota. Pastor Paroki Katedral, RD Andi Latu Batara menggambarkan tragedi itu sebagai curahan Belas Kasih Allah yang berbela rasa dengan umat manusia. Kita diajak untuk mengalami Kasih Tanpa Batas itu dengan iman yang dalam.
Perarakan Salib yang dilbawa oleh RD Jean Loustar Jewadut saat Ibadat Jumat Agung di Gereja Katedral Ruteng, Jumat malam, 3 April 2026. (Foto: KOMSOS PKR)
KATEDRALRUTENG.ORG – Paroki Santa Maria
Diangkat ke Surga dan Santu Yosep Katedral Ruteng mengadakan 6 kali Ibadat
Jumat Agung yang dilaksanakan di Gereja Santu Yosef, di Gereja Katedral, dan di
Aula Maria Assumpta. Ribuan umat memadati tiga lokasi tersebut yang masing-masing
terdapat 2 ibadat, yakni pukul 15.00 dan pukul 18.00.
Pastor Paroki Katedral Ruteng RD Antonius Ryanto Latu Batara memimpin Ibadat pukul 15.00 di Aula Assumpta yang dihadiri sekitar 2 ribu umat. Saat menyampaikan Renungan Jumat Agung, RD Andi mengatakan, dalam Via Dolorosa, Jalan Salib Yesus, kita semua melihat Kasih Allah yang sempurna yang masuk ke dalam setiap penderitaan manusia.
Pastor Paroki Santa Maria Diangkat ke Surga dan Santu Yosep Katedral Ruteng RD Antonius Ryanto Latu Batara. Dalam Renungan Jumat Agung di Aula Assumpta, ia berpesan bahwa dalam pergumulan dan penderitaan hidup manusia, Allah berbela rasa dan ikut menderita, serta mengaruniakan Rahmat Belas Kasih-Nya. (Foto: KOMSOS PKR)
“Di Jalan Salib itu,
Tuhan memperlihatkan Belas Kasih-Nya yang tanpa batas, yang tercurah
sehabis-habisnya bagi semua orang yang menderita, yang dalam pergumulan, yang sakit
dan juga keluarga-keluarga yang mengalami kesulitan, kepedihan hidup, dan mereka
yang terluka. Misteri Kasih Allah yang tak terhingga ini menjadi sumber kekuatan,
harapan, dan keselamatan kita,” kata RD Andi.
Sementara, Vikaris
Parokial Katedral Ruteng RD Jean Loustar Jewadut mempersembahkan ibadat Jumat
Agung pukul 18.00 di Gereja Katedral Ruteng. Dalam renungan Jumat Agung, RD Jean
mengatakan kasih yang sejati selalu disertai dengan semangat pengorbanan. Kasih
yang total dari Yesus kepada manusia membuat Dia berani berkorban sehabis-habisnya
hingga wafat di kayu salib.
“Berkorban berarti berani keluar dari kepentingan diri sendiri, keluar dari kenyamanan untuk berbuat sesuatu bermakna bagi orang yang kita cintai. Pengorbanan kita dapat diukur dalam peristiwa sedih, susah, dan derita. Ketika orang yang kita cinta sedang dalam susah, apakah kita rela untuk berkorban? Kita kemudian paham sejauh mana pengorbanan Simon Petrus untuk Yesus, Sang Guru. Simon berkorban dan menjadi murid hanya ketika Yesus mengadakan mukjizat dan dielu-elukan. Namun, ketika Yesus berhadapan dengan penderitaan dan kesusahan, Simon Petrus tidak berani berkorban: dia malah menyangkali Yesus sebanyak 3 kali,” kata RD Jean.
Vikaris Parokial Katedral Ruteng RD Jean Loustar Jewadut saat sedang menyampaikan Renungan Jumat Agung di Gereja Katedral Ruteng, 3 April 2026. (Foto: KOMSOS PKR)
RD Jean menambahkan, Yesus mengajak kita semua untuk berjuang memikul salib hidup masing-masing. Salib dan tantangan dalam hidup tidak menjadi tanda bahwa Tuhan tidak memihak dan mencintai kita. Sebaliknya, melalui peristiwa salib sehari-hari, Tuhan mau mendidik kita, Tuhan membawa kita masuk ke dalam proses untuk ditempa agar menjadi pengikut-Nya yang lebih tangguh, berserah diri sepenuhnya pada Dia.
“Kita juga diajak untuk
tidak menciptakan secara sengaja salib dalam hidup kita masing-masing. Kalau
utang menumpuk karena judi online, itu bukan salib dari Tuhan, tapi salib yang
dibuat sendiri dengan tahu dan mau. Pada prinsipnya, Tuhan mau kita semua
umat-Nya mengalami sukacita dan keselamatan. Yesus juga mengajak kita semua
untuk turut serta menanggung atau meringankan beban salib orang-orang di
sekitar kita yang sangat menbutuhkan bantuan,” ujar RD Jean.