
Bidang Kerasulan Sosial dan Politik semakin butuh perhatian semua pihak, termasuk Gereja di tengah berbagai persoalan krisis dan problem yang menghampirinya. Umat (awam) Katolik yang menjadi politisi dan pemimpin (eksekutif dan legislatif) diharapkan konsisten menjadi ‘garam dan terang’ dunia. Sinode IV Keuskupan Ruteng menjadi titik harapan baru untuk gagasan itu.
Ansel Alaman saat berbicara menyampaikan pandangannya pada Sidang Sinode IV Keuskupan Ruteng di Rumah Retret Wae Lengkas, Rabu 7 Januari 2026 (Foto : KOMSOS KR)
KATEDRALRUTENG.ORG – Sidang Sinode IV Keuskupan Ruteng untuk Sesi I telah selesai dilaksanakan di Rumah Retret Wae Lengkas, Ruteng. Rapat marathon selama 4 hari (5-8 Januari 2026) tersebut telah menetaskan sejumlah rumusan komitmen bersama sebagai hasil Sidang Sesi I.
Tema
yang diusung, yakni “Berziarah Bersama dalam Pengharapan: Beriman, Bersaudara,
dan Misioner” menjadi jalan dan gerak bersama (sinodalitas) untuk menatap masa depan karya
Gereja Lokal dalam 10 tahun mendatang.
Panitia Kerja Sidang
Sinode IV Keuskupan Ruteng yang membidangi Kerasulan Sosial Politik, dan Dialog
Lintas Agama, Ansel Alaman di sela keikutsertaannya dalam sidang, menjawab media
ini, Kamis, 8 Januari 2026, mengatakan ia bersyukur karna dipercayakan sebagai
panitia dan bisa hadir bersama ratusan peserta lain dalam Sidang Sinode.
“Politik adalah bagian dari keseharian hidup semua orang, dan politik tidak hanya tentang bagaimana memunculkan pemimpin eksekutif dan legislatif setiap lima tahun, tapi dalam kaitan dengan kebijakan, policy. Maka ada dua jalan politik, sebagai jalan untuk kepentingan umum (bonum commune) dan secara khusus di mana awam Katolik yang secara pribadi memilih jalan untuk ambil peran dalam kebijakan publik,” ucap Ansel.
Dua buku karya Ansel Alaman yang membedah praksis politik kontemporer di tanah air. Ia juga pernah menjabat sebagai Tenaga Ahli di DPR RI dan Media Center DPP PDIP di Jakarta. (Foto : IST)
Menurut peraih predikat Magna cumlaude Ilmu Politik di Pascasarjana UGM Yogayakarta (2023), ini, penting juga Sinode IV melalui sesi sidangnya yang bertahap, berbicara tentang peran dan keterlibatan awam dalam bidang politik krena di situlah juga wajah gereja hadir bagi umat awam.
“Khusus kerasulan awam di bidang politik yang kita
sebut sebagai gelanggang kekuasaan, kita harapkan bahwa dalam Sinode ini juga
dipikirkan bagaimana menyiapkan awam dengan baik,” tuturnya.
Ansel, yang juga menulis buku ‘Politik Katolik dan Kaderisasi Kebangsaan’ (OBOR, 2020) dan Budaya Pancasila Merevolusi Perilaku ‘Budaya’ Bohong (KOMPAS, 2022) menambahkan kita wajib menyiapkan para calon pemimpin baik di eksekutif (bupati, wakil bupati, wali kota) maupun legislatif (DPRD, DPR, DPD) dan Sinode IV menjadi momen dalam merumuskan dan terlibat dalam proses rekruitmen, kaderisasi khusus untuk semua orang yang terpanggil dalam kancah politik khusus. (Jimmy Carvallo)