Perayaan Pembaruan Janji Imamat, Uskup Siprianus: Gereja Dipanggil Menjadi Rumah Pengharapan

Di hadapan hampir 200 imam yang mengikuti Misa Pembaruan Janji Imamat dan Pemberkatan Minyak Kudus, Uskup Siprianus mengajak untuk tidak menjadikan Gereja sebagai benteng yang tertutup, melainkan Rumah Pengharapan. Imam diajak untuk selalu dekat dengan umat, tidak menjaga jarak atau menjauh dari mereka.

Para imam berfoto bersama Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat seusai Misa Pembaruan Janji Imamat dan Pemberkatan Minyak Kudus di Gereja Katedral Ruteng, Selasa, 31 Maret 2026 sore. (Foto: KOMSOS PKR)

KATEDRALRUTENG.ORG – Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat memimpin Perayaan Ekaristi Pembaruan Janji Imamat dan Pemberkatan Minyak Kudus yang dihadiri lebih dari 150 imam dan biarawan dari berbagai kongregasi. Misa yang dimulai pukul 16.30 ini digelar di Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga dan Santu Yosef Katedral Ruteng, Selasa, 31 Maret 2026 mengambil tema “Mendengarkan Roh, Melayani dengan Kasih.”

 

Tampak juga sejumlah imam konselebran, seperti Vikjen Keuskupan Ruteng RP Sebastianus Hobahana, SVD, Sekjen RD Rikardus Jehaut, Vikep Reo RD Josy Erot, Vikep Ruteng RD Dyonysius Osharjo, Vikep Borong RD Simon Nama, Direktur PUSPAS RD Martin Chen, dan Ketua Yapersukma/Ketua Komisi Pendidikan Keuskupan Ruteng RD Patrick Dharsam Guru.



Para imam konselebran saat menghadiri Misa Pembaruan Janji Imamat dan Pemberkatan Minyak Kudus yang dipimpin Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat di Gereja Katedral Ruteng, Selasa petang, 31 Maret 2026. (Foto: KOMSOS PKR)


Dalam perayaan ini, para imam membarui janji imamatnya sekaligus membiarkan dirinya ditarik kembali ke dalam ketaatan Kristus, satu dengan kehendak Allah yang adalah Kasih. Misa dimeriahkan oleh Paduan Suara Maria Assumpta dan dihadiri pula para biarawati, jajaran pengurus DPP DKP, tokoh pemerintahan, tokoh-tokoh masyarakat dan adat, juga utusan dari berbagai kelompok kerasulan rohani, dan kategorial.

 

Dalam pesan homilinya, Mgr. Siprianus mengatakan, tahun ini, perayaan tersebut mengambil tema “Mendengarkan Roh, Melayani dengan Kasih,” bertemu secara indah dengan semangat Sinode IV Keuskupan Ruteng: “Berziarah bersama dalam Pengharapan.” Sebab pengharapan Kristiani tidak lahir dari sikap menutup diri, apalagi dari optimisme kosong. Pengharapan lahir dari hati yang mendengarkan Roh, dari umat yang berjalan bersama, dan dari Gereja yang rela keluar dari dirinya sendiri untuk menjadi kasih yang bisa disentuh.


Para imam yang berkarya di Keuskupan Ruteng saat menghadiri Misa Pembaruan Janji Imamat dan Pemberkatan Minyak Kudus yang dipimpin oleh Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat di Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga dan Santu Yosep Katedral Ruteng, Selasa, 31 Maret 2026. (Foto: KOMSOS PKR)

 

Maka hari ini Gereja diingatkan kembali: kita diurapi bukan untuk disimpan, tetapi untuk dicurahkan; menjadi persembahan bagi sesama dan bagi dunia yang kita layani,” ujar Mgr. Siprianus, sambil menambahkan bahwa mendengarkan Roh bukan pengalaman samar yang berhenti pada rasa rohani. Mendengarkan Roh berarti membiarkan hidup dibentuk oleh misi Allah. Yesus mendengarkan Roh secara sempurna, dan karena itu seluruh hidup-Nya menjadi pelayanan yang penuh kasih.

 

Kata penting dalam Injil Lukas 4:16-21 yang dibacakan dalam misa ini, lanjut Mgr. Siprianus, adalah “hari ini.” Artinya, rahmat Allah tidak ditunda. Hari ini pun Gereja diutus. Hari ini pun para imam dipanggil membaharui hati. Hari ini pun pengurapan Roh harus berubah menjadi kasih yang konkret.


Di sinilah Misa Krisma bertemu erat dengan semangat Sinode IV Keuskupan Ruteng: Berziarah bersama dalam Pengharapan. Sinode mengingatkan bahwa Gereja adalah umat yang berjalan bersama; Misa Krisma mengingatkan bahwa Gereja berjalan dengan pengurapan Roh. Sinode berbicara tentang pengharapan; Misa Krisma menunjukkan bahwa pengharapan itu hadir sebagai kasih yang dicurahkan.

Mgr. Siprianus menuturkan, motto Sinode IV menjadi sangat hidup dalam terang perayaan ini: beriman berarti mendengarkan Roh; bersaudara berarti berjalan bersama; dan misioner berarti rela keluar dari diri demi yang lain. Maka Gereja sinodal adalah Gereja yang hidup seperti minyak: tidak tinggal tertutup di dalam wadah, tetapi keluar, menyentuh, menguatkan, dan menyembuhkan.

Pesan ini sangat relevan bagi zaman kita. Dunia sedang letih oleh krisis, bencana, kekerasan, kecemasan, dan ketidakpastian. Gereja pun tidak luput dari kelelahan dan godaan untuk sibuk mengurus dirinya sendiri. Karena itu Misa Krisma menjadi teguran yang lembut tetapi jelas: Gereja tidak dipanggil untuk tinggal dalam benteng tertutup melainkan rumah pengharapan," ujarnya.

Mgr. Siprianus mengatakan, Uskup dan para imam diurapi bukan untuk menjaga jarak atau tinggal menjauh tetapi untuk mendekat dengan umat. Umat beriman pun tidak dipanggil untuk jadi penonton dalam dalam liturgi, melainkan menjadi perpanjangan tangan kasih Allah di tengah hidup sehari-hari,” tutur Mgr. Siprianus.


Ketua Pelaksana DPP Katedral Ruteng Simon Manggu (kedua dari kanan) dan penggerak organisasi kerasulan rohani Legio Mariae Susana Terisno (kanan memakai baju warna putih) saat mengikuti Misa Pembaruan Janji Imamat dan Pemberkatan Minyak Kudus di Gereja Katedral Ruteng, Selasa, 31 Maret 2026. (Foto: KOMSOS PKR)

Karena itu, lanjut Mgr. Siprianus, kalau Sinode IV mengajak kita berziarah bersama dalam pengharapan, maka Misa Krisma memberi isi bagi langkah itu: berjalan bersama berarti saling menopang dalam kasih; berjalan dalam pengharapan berarti membawa rahmat yang bisa disentuh; dan berjalan dalam Roh berarti rela keluar dari diri demi hidup sesama.

Maka kalimat yang pantas kita bawa pulang hari ini ialah: Gereja yang mendengarkan Roh adalah Gereja yang tidak menyimpan minyak rahmat untuk dirinya sendiri, tetapi mencurahkannya menjadi kasih; dan dari situlah pengharapan lahir,” ucapnya.

Dalam misa ini juga dilaksanakan Pembaruan Janji Imamat yang diawali dengan menyanyikan bersama lagu Veni Creator Spiritus dilanjutkan dengan pemberkatan minyak orang sakit (Oleum Infirmorum), pemberkatan minyak katekumen, dan minyak Krisma oleh Mgr. Siprianus. Seusai misa dilanjutkan dengan acara ramah-tamah yang digelar di Aula Assumpta kompleks Gereja Katedral Ruteng. 

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
LINK TERKAIT