
Di tengah suasana keprihatinan pasca bencana Gempa Bumi yang belum lama mengguncang Pulau Flores, umat Katolik kini memasuki Bulan Rosario. Di Paroki Katedral Ruteng, misa Pembukaan Bulan Rosario berlangsung khusyuk di Gereja Katedral dipimpin RD Jean. Ia mengajak umat menerima Bunda Maria dalam kehidupan doa dan iman, dalam keluarga, dan komunitas hidup bersama.
Vikaris Parokial Paroki Katedral Ruteng RD Jean Loustar Jewadut. (Foto: KOMSOS PKR)
KATEDRALRUTENG.ORG – Ratusan umat Paroki
Katedral Ruteng menghadiri Misa Pembukaan Bulan Rosario dipimpin Vikaris Parokial
RD Jean Loustar Jewadut, Kamis sore, 1 Oktober 2026. Misa yang digelar di
Gereja Katedral ini dimeriahkan koor anggota Legio Mariae yang mengenakan
busana adat Manggarai. Meski cuaca tidak bersahabat, diguyur hujan lebat, namun umat
tetap antusias mengikuti jalannya misa.
Dalam homilinya, RD
Jean mengatakan, sering kali saat kita menderita, pikiran kita hanya terfokus
pada diri sendiri dan rasa sakit yang kita alami. Namun Yesus berbeda. Di saat
nafas-Nya terengah-engah dan tubuh-Nya dipenuhi luka penderitaan, hati Yesus
justru tertuju pada nasib ibu-Nya.
Ia tahu bahwa secara
manusiawi, Maria akan kehilangan perlindungan. Maka dari belaskasih-Nya yang
terdalam, Yesus berkata kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah anakmu!" Dan
kepada murid-Nya: "Inilah ibumu!" Yesus memastikan bahwa ibu yang
telah merawat-Nya tidak akan sendirian di dunia ini.
“Tindakan Yesus
menyerahkan Maria kepada murid yang dikasihi-Nya memiliki makna iman yang
sangat dalam. Murid yang dikasihi mewakili kita semua yaitu Gereja-Nya. Melalui
peristiwa ini, Maria diterima sebagai Bunda Gereja, Maria tidak hanya menjadi
ibu secara fisik bagi Yesus, tetapi diangkat menjadi ibu rohani bagi seluruh
umat beriman,” kata RD Jean.
Terjalin Ikatan Rohani
Dikatakan RD Jean, sama
seperti para murid menerima Maria di dalam rumahnya, kita pun diundang untuk
menerima Maria dalam kehidupan doa dan iman kita. Ada ikatan rohani yang
mempersatukan kita sebagai satu keluarga di dalam Kristus.
“Dari Maria, kita juga
belajar kesetiaan untuk hadir bersama Putra-Nya dalam penderitaan. Ibu mana
yang sanggup melihat anaknya menderita dan mati di kayu salib? Namun, Bunda
Maria tidak melarikan diri. Dari palungan yang sederhana di Betlehem hingga
bukit Golgota yang kelam, Maria selalu hadir menemani Yesus,” ucapnya.
Kehadiran Maria di kaki
salib, RD Jean menuturkan, bukanlah kehadiran yang meratap tanpa harapan,
melainkan kehadiran yang diam, teguh, dan menguatkan. Kehadirannya menjadi
wujud nyata kasih yang tidak pernah meninggalkan, bahkan di titik tergelap
kehidupan Putra-Nya. Air mata duka Maria berubah menjadi berkat yang melimpah
dalam peristiwa kebangkitan Putra-Nya. [Jimmy Carvallo]