
Sebanyak 331 anak dari 5 Sekolah Dasar di Paroki Katedral akan menerima Komuni Pertama, pada pekan depan. Rekoleksi diadakan di Gereja Katedral Ruteng, dihadiri anak dan orang tua mereka. RD Patrick Guru mengajak para orang tua menjadi teladan bagi anak-anak untuk mencintai Ekaristi. Pesan penting yang menggugah panggilan sebagai orang tua.
Suasana saat kegiatan Rekoleksi menjelang Komuni Pertama yang diikuti hampir seribu orang (anak dan orang tua) di Gereja Katedral dipimpin RD Patrick, Rabu sore, 10/6/2026. (Foto: KATEDRALRUTENG.ORG)
KATEDRALRUTENG.ORG – Lebih dari 600 pasutri
(orang tua) dan 331 anak calon penerima Komuni Pertama dari 5 Sekolah Dasar
yang ada di Paroki Katedral Ruteng mengikuti rekoleksi bersama yang
dilaksanakan sebagai bagian dari persiapan rohani menjelang penerimaan Sakramen
Ekaristi. Lima sekolah tersebut, yakni SDK Ruteng II, SDK Ruteng III, SDK
Ruteng V, SDK Ruteng VI, dan SDI Konggang.
Kegiatan yang mengusung
tema "Ekaristi dalam Keluarga: Menyambut Yesus, Mengubah Hidup Kita"
tersebut dipandu oleh RD Patrick Dharsam Guru, Vikaris Parokial Katedral Ruteng
yang juga menjabat sebagai Ketua Yayasan Sukma Pusat, dan Ketua Komisi Pendidikan
Keuskupan Ruteng.
Dalam rekoleksi yang berlangsung penuh suasana reflektif dan kekeluargaan itu, para peserta diajak untuk memahami bahwa Komuni Pertama bukan sekadar sebuah perayaan seremonial, melainkan sebuah perjumpaan istimewa dengan Yesus Kristus yang hendaknya membawa perubahan dalam kehidupan anak-anak dan keluarga.
RD Patrick Dharsam Guru. (Foto: ISTIMEWA)
Menurut RD Patrick,
menjelang Komuni Pertama perhatian orang tua sering kali tersita pada persiapan
pesta, pakaian, konsumsi, dan berbagai kebutuhan lainnya. Padahal, yang paling
penting adalah mempersiapkan hati anak-anak agar layak menyambut Kristus dalam Sakramen
Ekaristi.
"Yang paling
penting bukanlah kemeriahan pesta, tetapi kesiapan hati untuk menerima Yesus.
Komuni Pertama adalah awal persahabatan seumur hidup dengan Kristus. Karena itu
keluarga harus menjadi tempat pertama anak-anak belajar mencintai Yesus dan
Ekaristi," ungkapnya.
Dalam materi rekoleksi,
para orang tua diingatkan bahwa mereka adalah pendidik iman pertama dan utama
bagi anak-anak. Anak-anak lebih mudah belajar tentang iman melalui teladan
hidup orang tua daripada sekadar melalui nasihat atau pelajaran agama.
Selain pendalaman
materi, peserta juga mengikuti sesi refleksi keluarga yang menjadi salah satu
momen paling menyentuh selama kegiatan berlangsung. Dalam sesi tersebut, orang
tua dan anak diajak untuk saling mengungkapkan isi hati, saling memohon maaf,
serta saling mendoakan.
Pada kesempatan ini, salah seorang orang tua
peserta mengaku sangat tersentuh dengan pendekatan yang digunakan dalam
rekoleksi kali ini.
"Saya pernah
mengikuti rekoleksi Komuni Pertama untuk anak saya yang pertama. Sekarang saya mengikuti
lagi untuk anak bungsu. Namun kali ini saya merasakan sesuatu yang berbeda.
Yang paling menyentuh adalah ketika orang tua mendoakan anak secara langsung
dan saat kami saling meminta maaf. Momen itu membuat saya terharu dan semakin
menyadari tanggung jawab sebagai orang tua dalam mendampingi iman
anak-anak," tuturnya.
Suasana haru tampak
ketika para orang tua meletakkan tangan di atas kepala anak-anak mereka sambil
menyampaikan doa dan berkat. Tidak sedikit peserta yang meneteskan air mata
karena merasakan kedalaman kasih dalam relasi keluarga mereka.
Seorang guru yang turut
mendampingi kegiatan tersebut menilai bahwa materi rekoleksi memberikan
penekanan yang sangat kuat mengenai arti penting Ekaristi dalam kehidupan
anak-anak.
"Materi yang disampaikan sangat baik karena menekankan makna Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak tidak hanya diajarkan bagaimana menerima Komuni dengan benar, tetapi juga diajak untuk mencintai Ekaristi sejak usia dini. Ini penting agar iman mereka bertumbuh dan mereka tetap dekat dengan Gereja," ujarnya.
Pemandangan suasana dalam Gereja Katedral Ruteng saat kegiatan Rekoleksi persiapan Komuni Pertama yang ditutup dengan Perayaan Ekaristi dipimpin RD Patrick Dharsam Guru, Rabu sore, 10 Juni 2026. (Foto: KATEDRALRUTENG.ORG)
Menurut dia, pembinaan
iman sejak usia anak-anak akan menjadi fondasi yang kuat bagi perkembangan
pribadi mereka di masa depan.
Kegiatan rekoleksi
ditutup dengan Perayaan Ekaristi bersama, yang menjadi puncak seluruh rangkaian
persiapan rohani. Dalam suasana doa dan syukur, para orang tua dan anak-anak
menyerahkan seluruh proses persiapan mereka kepada Tuhan, memohon rahmat agar penerimaan
Komuni Pertama yang akan datang sungguh menjadi pengalaman iman yang mendalam.
Melalui rekoleksi dan
perayaan Ekaristi ini, diharapkan anak-anak semakin siap menyambut Yesus dalam
Sakramen Mahakudus, sementara para orang tua semakin menyadari panggilan mereka
untuk terus mendampingi pertumbuhan iman anak-anak di dalam keluarga.
"Komuni Pertama
bukanlah akhir dari persiapan, tetapi awal perjalanan panjang bersama Yesus.
Tugas kita adalah menjaga agar cinta kepada Ekaristi tetap hidup dalam hati anak-anak
sepanjang hidup mereka," demikian pesan penutup RD Patrick. [Jimmy Carvallo]