Uskup Ruteng Pimpin Misa Paskah di Gereja Katedral, Singgung Para “Sengkuni” Penyebar Fitnah

Di hadapan ribuan umat yang menghadiri misa Hari Raya Paskah di Gereja Katedral Ruteng, Mgr. Siprianus mengajak umat Katolik agar tidak menjadi penyebar fitnah dan kebencian, baik melalui berita yang tidak terverifikasi pun melalui media sosial. Bijaksana menimbang karna yang ‘viral’ belum tentu yang benar. Berani menjauhi sikap ‘lempar batu sembunyi tangan’ yakni tiup dulu isu, nanti korban membuktikan sendiri.

Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat dan Pastor Paroki Katedral RD Antonius R. Latu Batara dan konselebran lainnya berfoto bersama seusai Misa Paskah di Gereja Katedral, Minggu, 5 April 2026. (Foto: KOMSOS PKR)

KATEDRALRUTENG.ORGSekitar 2 ribu umat Katolik memadati Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga dan Santu Yosep Katedral Ruteng, Minggu, 5 April 2026 saat digelar Misa Minggu Paskah Hari raya Kebangkitan Tuhan Yesus yang dipimpin Uskup Keuskupan Ruteng Mgr. Siprianus Hormat. Misa ini dihadiri pula Bupati Manggarai Herybertus G. L Nabit dan istri, serta Wakil Bupati Fabianus Abu dan istri. Tiba di kompleks pastoran, Uskup dan rombongan Bupati diterima dengan ritus adat Manggarai, yakni Kȅpok.

Pada misa ini, Mgr. Siprianus didampingi oleh sejumlah imam konselebran lainnya seperti Pastor Paroki Katedral RD Antonius Ryanto Latu Batara; juga RD Patrick Dharsam Guru, RD Aloysius Johnson, RD Earlich Hearbert, RD Ivan Heryanto, dan RD Jean Loustar Jewadut. Tampak jajaran pengurus Dewan Gereja, di antaranya Ketua Pelaksana DPP Simon Manggu.


Grup sanggar penabuh gong dan gendang saat tampil di pelataran Gereja Katedral Ruteng menyambut Bapak Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat, para imam konselebran, Bupati dan Wabup Manggarai dan rombongan serta semua umat yang datang menghadiri Misa Paskah, Minggu, 5 April 2026. (Foto: KOMSOS PKR)

Di pelataran Gereja Katedral, saat perarakan masuk menuju Gereja, Mgr. Siprianus bersama rombongan imam Konselebran dan tetamu undangan dari Pemda disambut oleh rombongan penabuh gong-gendang yang semakin menyemarakkan perayaan Paskah. Misa juga dimeriahkan Paduan Suara Maria Assumpta dan kelompok penari para remaja.

Dalam homili Minggu Paskah berjudul Bangkit dari Hal yang Kecil dan Sederhana, Uskup yang akrab disapa Mgr. Sipri, ini mengatakan, berita kebangkitan adalah berita yang terlalu besar bagi ukuran akal manusia. Sebab siapa yang sanggup membayangkan — sungguh-sungguh membayangkan — bahwa Dia yang mati di salib, yang tubuh-Nya dibaringkan dingin dalam kubur, kini berdiri hidup dan mengalahkan maut?


Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat dan barisan para imam konselebran saat berjalan memasuki Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga dan Santu Yosep Katedral Ruteng saat digelarnya Misa Hari Raya Paskah, Minggu, 5 April 2026 pagi. (Foto: KOMSOS PKR)

Namun justru di situlah indahnya Paskah. Kebangkitan yang sebesar itu tidak dikenali lewat sesuatu yang heboh dan spektakuler. Para perempuan tidak melihat saat Yesus bangkit. Petrus dan murid yang dikasihi juga tidak menyaksikan detik-detiknya. Mereka hanya menemukan tanda-tanda kecil:

Batu yang sudah terguling, Kubur yang kosong, Kain kafan yang tertinggal, dan Kain peluh yang tergulung rapi di sudut. Dari hal-hal sekecil itu, iman mulai menyala. Dari yang tampak sepele itulah hati mulai mengerti: Tuhan sungguh hidup.

Jangan Memberi “Like” pada Kebencian

Dikatakan Mgr. Siprianus, kita hidup dalam zaman yang tidak lagi sabar memulai dari hal kecil. Kita ingin langsung besar. Cepat kaya, lalu terjebak judi online. Pinjaman online. Cepat dipandang hebat, lalu mulai merendahkan orang lain. Cepat naik, cepat terkenal, cepat berkuasa — lalu lupa bahwa hidup bukan soal siapa paling tinggi, tetapi siapa paling benar.

Pelan-pelan, tanpa kita sadari, kita mulai meninggalkan hal-hal kecil yang menjaga jiwa kita tetap hidup. Doa sederhana terasa membosankan. Rosario terasa kuno. Rendah hati terasa kelemahan. Nilai orang mulai diukur dari uang, jabatan, dan kendaraan. Dan di saat seperti itu, tanpa sadar, kita sedang membangun altar lain dalam hatimenyebut nama Tuhan, tapi yang kita sembah diam-diam adalah gengsi, keuntungan, dan hal-hal yang sedang viral.


Uskup Keuskupan Ruteng Mgr. Siprianus Hormat saat memimpin Perayaan Ekaristi Hari Raya Paskah Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus di Gereja Katedral Ruteng, Minggu, 5 April 2026 yang dipadati sekitar 2 ribu umat. (Foto: KOMSOS PKR)

Dan kata viral itu membawa saya pada sesuatu yang ingin saya bagikan kepada saudara-saudari — sesuatu yang saya rasa penting untuk kita sadari bersama. Banyak orang menyebut zaman ini sebagai zaman post-truth — pasca-kebenaran. Artinya sederhana: kebenaran tidak lagi ditentukan oleh fakta, melainkan oleh seberapa banyak orang meyakininya. Bukan benar atau salah yang menentukan — tapi siapa yang paling ramai, paling kompak, paling viral,” kata Mgr. Siprianus.

Kenyataan itu, lanjut Mgr. Siprianus, bukan cerita baru. Yesus pernah mengalaminya. Ia disalibkan bukan karena fakta yang terbukti, melainkan karena massa yang kompak menuduh. Satu teriakan memancing teriakan lain. Satu tuduhan menjadi tuduhan semua. Pilatus tahu Yesus tidak bersalah — tapi suara yang paling ramai yang menang. Salib adalah buah dari kebenaran yang kalah oleh kebisingan.

“Di Facebook, di TikTok, di Instagram, seratus orang kompak menuduh, maka ketika viral, maka hal itu jadi kebenaran. Karakter orang dibunuh bukan dengan pisau, tapi dengan jari dan layar. Berita tidak lagi diverifikasi – yang penting menyebar, yang penting viral. Fitnah keji dibiarkan dan kita terus menjadi sengkuni: membunuh orang terdekat kita agar populer. Ada yang sengaja meniup isu dan fitnah, lalu kalau pun tidak benar nanti biar korban yang membuktikan sendiri,” kata Mgr. Siprianus.


Para imam konselebran yang mengikuti Misa Hari Raya Paskah yang dipimpin oleh Uskup Keuskupan Ruteng Mgr. Siprianus Hormat di Gereja Katedral Ruteng, Minggu, 5 April 2026 pagi. Misa ini berjalan lancar dan khidmat dan dijaga oleh aparat keamanan gabungan. (Foto: KOMSOS PKR)

Dia pun mengingatkankan, harus disadari bahwa algoritma media sosial justru senang dengan hal yang viral. “Facebook tidak akan mengecek berita benar, tapi seberapa viral agar jadi uang. Itulah sebabnya, banyak berita benar tidak viral dan banyak berita yang tidak benar jadi viral. Dan hal ini sungguh memprihatinkan. Dan Yesus terus disalibkan. Di media sosial. Setiap hari.”

Uskup Siprianus, yang pernah menjabat Sekretaris Eksekutif KWI, itu juga berpesan, agar setiap orang jangan ikut menyebarkan berita yang belum tentu benar. Jangan menghakimi orang hanya karena semua orang sedang menghakimi. Jangan memberi "like" pada kebencian hanya karena kebencian itu sedang ramai. Satu keputusan kecil untuk berhenti sebelum menekan tombol bagikan — itu pun sudah merupakan tindakan Paskah. Itu pun sudah merupakan langkah kecil yang menolak ikut menyalib. Dalam zaman di mana kejujuran jadi hal langka, kesetiaan pada yang kecil dan benar adalah perlawanan yang paling elegan — dan paling kuat,” tegas Mgr. Siprianus.


Momen penyerahan bantuan Pembangunan Gereja Santu Nikolaus Golo Dukal dari umat Paroki Katedral Ruteng kepada pengurus Dewan Pastoral Paroki St. Nikolaus yang diserahkan dalam acara Ramah Tamah Paskah di Aula Santu Yosep, kompleks Gereja Katedral Ruteng. (Foto: KOMSOS PKR)

Pulang kepada Hal-hal Kecil dan Benar

Paskah, lanjut Mgr. Siprianus, mengajak kita pulang. Bukan pulang ke hidup yang lama. Tapi pulang kepada hal-hal kecil yang benar — yang selama ini menjaga jiwa kita tetap hidup. Pulang kepada doa yang mungkin singkat, tapi tulus. Kepada hormat kepada orang tua. Kepada cinta suami-istri seperti janji awal nikah. Kepada kerja keras yang jujur. Kepada kerendahan hati. Kepada semangat menolong tanpa banyak perhitungan. Sebab sering kali justru di sanalah Kristus yang bangkit menunggu kita.

Kubur kosong bukan hanya kabar bahwa Yesus tidak ada lagi di tempat kematian. Kubur kosong adalah teguran halus: jangan lagi tinggal di tempat lama. Kalau Kristus sudah bangkit, mengapa kita masih betah hidup seperti orang yang belum punya harapan? Kalau kain kematian sudah ditinggalkan, mengapa kita masih membungkus hidup dengan iri hati, kesombongan, dan dendam?” ujar Mgr. Siprianus.


Uskup Keuskupan Ruteng Mgr. Siprianus Hormat, Pastor Paroki Katedral RD Antonius Ryanto Latu Batara, bersama Bupati Manggarai Herybertus G. L Nabit dan istri, Wabup Fabianus Abu dan istri dan jajaran pengurus DPP-DKP Katedral berfoto bersama dalam acara Ramah Tamah Paskah di Aula Santu Yosep. (Foto: KOMSOS PKR)

Kepada semua orang, Mgr, Siprianus mengajak untuk memulai dari yang kecil, tapi benar. Dari rumah sendiri: cara kita berbicara, cara kita menghormati, cara kita mengelola uang, cara kita memperlakukan sesama. Sebab Tuhan yang bangkit tidak datang dengan gegap gempita — melainkan dengan tanda-tanda kecil yang menyelamatkan,” ujarnya.

Seusai misa, digelar acara Ramah Tamah Paskahdi Aula Santu Yosep kompleks Gereja Katedral yang diikuti lebih dari 100 orang, termasuk tokoh-tokoh umat, tokoh adat, dan tokoh masyarakat termasuk utusan pengurus KBG, Wilayah, kelompok kategorial, dan tokoh lintas agama.

Acara ini diisi pula dengan penyerahan Dana Bantuan Pembangunan Gereja St. Nikolaus, Golo Dukal sebesar Rp 10 Juta dan launching Pinjaman Tanpa Bunga Rp 3 juta per-KBG secara simbolis diserahkan oleh Mgr. Siprianus dan Bupati Herybertus. Sebagai 'paroki sulung' perhatian kepada paroki-paroki lain yang membutuhkan dukungan juga menjadi bagian dari eksistensi paroki ini. (Jimmy Carvallo)

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
LINK TERKAIT