
Situasi hidup kita di dunia bisa diibaratkan dengan situasi Israel yang berada dalam pembuangan. Kita merasakan beban hidup yang berat karena situasi ekonomi yang melemah, ancaman penyakit, dan kejahatan yang semakin melumpuhkan.
Tuhan setia dengan janji-Nya kendati Israel sudah memberontak bahkan berkhianat. Dia adalah Allah yang setia kepada perjanjian-Nya. “Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menepati janji yang telah Kukatakan kepada kaum Israel dan kaum Yehuda” (Yer. 33:14-16).
Pengharapan selalu ada bagi mereka yang percaya kepada Allah. Pengharapan tidak berdiri sendiri, tetapi selalu berkelindan dengan iman.Imanlah dasar harapan-harapan kita. Itulah keyakinan dalam diri Daniel sehingga ia selalu proaktif untuk memahami makna atas mimpinya.
Perubahan pasti akan selalu terjadi, baik disadari maupun tidak. Pada umumnya, hal itu terjadi karena adanya suatu kepedulian terhadap sesuatu yang dianggap sudah tidak memuaskan lagi bagi masyarakat.
Kita bisa belajar dari teladan keluarga Matatias. “Namun aku serta anak-anak dan kaum kerabatku terus hendak hidup menurut perjanjian nenek moyang kami” (1Mak. 2:20). Matatias adalah seorang yang benar di hadapan Allah. Ia adalah seorang yang setia kepada Allah dan memiliki ketetapan hati. Ia tahu tujuan dan arah hidupnya.
Yesus memberikan gambaran bahwa Allah itu adalah tuan yang memberikan pinjaman uang untuk dikelola dan dikembangkan. Dengan begitu, kelak ada suatu bunga atau nilai lebih dari modal awal yang harus dihasilkan. Aturan demikian sangat masuk akal dalam dunia perdagangan, namun apakah hukum dagang ini diterapkan Allah pada kita?